Feature Artikel Inspiratif dan Motivatif
Karya: DR Syeikh Asripilyadi, M.M
Ada kalimat indah yang sering kita dengar dari para bijak: “Bunga yang tumbuh di tanah desa pun dapat mengharumkan dunia, bila disirami dengan semangat, doa, dan cinta.”
Kalimat itu seolah menggambarkan perjalanan seorang putri muda asal Indragiri Hulu, Riau — Raja Citra Dwinanda Putri — yang kini bersinar di panggung nasional sebagai Top 10 dan Puteri Kebudayaan Indonesia Best Talent 2025 di Nusa Dua, Bali.
Di balik senyumnya yang lembut dan pancaran matanya yang penuh tekad, tersimpan kisah perjuangan yang inspiratif — kisah tentang mimpi, ketekunan, doa orang tua, dan cinta yang mendalam terhadap budaya.
Dari Tanah Indragiri Hulu, Mimpi Itu Tumbuh
Raja Citra Dwinanda Putri lahir dan tumbuh di tengah keluarga yang hangat, di bawah asuhan pasangan R. Noprizal Djas dan Alusmawati. Sejak kecil, Citra dikenal sebagai anak yang berkarakter lembut, santun, dan penuh semangat belajar.
Ia tidak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap nilai-nilai budaya dan sosial di sekitarnya.
Indragiri Hulu, daerah asalnya, memang kaya dengan tradisi dan kearifan lokal. Dari Nandung Asli Indragiri hingga budaya suku Talang Mamak yang sarat makna spiritual dan sejarah panjang, semua itu menjadi bagian dari napas hidup masyarakatnya.
Dari sinilah, Citra belajar menghargai akar, memahami jati diri, dan menumbuhkan kecintaannya terhadap budaya.
Bagi Citra, budaya bukan sekadar tari dan busana adat. Budaya adalah jati diri bangsa — cermin nilai, moral, dan karakter yang membentuk keindonesiaan sejati.
Maka tak heran, ketika kesempatan mengikuti ajang Putri Kebudayaan Riau datang, ia melihatnya bukan sekadar kompetisi, tetapi panggilan hati.
Langkah Awal: Dari Kabupaten ke Provinsi
Perjalanan Citra tidak mudah. Ia memulainya dari seleksi tingkat Kabupaten Indragiri Hulu, bersaing dengan banyak peserta yang memiliki talenta luar biasa. Namun, dengan kerja keras dan keyakinan, ia berhasil menjadi Juara Pertama Putri Kebudayaan Kabupaten Indragiri Hulu 2025.
Keberhasilan itu menjadi batu loncatan menuju tingkat provinsi. Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Ia harus berhadapan dengan para finalis dari berbagai kabupaten dan kota di Riau yang tak kalah hebatnya. Tapi, alih-alih gentar, Citra menjadikan persaingan itu sebagai motivasi.
Ia belajar lebih giat. Ia menajamkan kemampuan public speaking, memperdalam pengetahuan tentang sejarah dan seni budaya Riau, serta memoles kepribadian dengan ketulusan dan etika.
Dalam ajang Putri Kebudayaan Riau 2025 yang digelar 1 Agustus lalu, ketekunan itu membuahkan hasil. Citra dinobatkan sebagai Putri Kebudayaan Riau 2025, gelar bergengsi yang membuka pintu menuju panggung nasional di Bali.
Jejak di Panggung Nasional: Nusa Dua, Bali 2025
Ketika langkah kakinya menapaki lantai karantina ajang Puteri Kebudayaan Indonesia 2025 di Nusa Dua, Bali, Citra membawa lebih dari sekadar pakaian dan perlengkapan lomba. Ia membawa nama besar Riau, doa masyarakat Indragiri Hulu, dan semangat budaya Melayu yang luhur.
Selama tiga hari karantina, ia bersama perwakilan provinsi lain menjalani serangkaian uji kemampuan: public speaking, catwalk, pengenalan wastra (kain tradisional), dan penampilan bakat budaya.
Di antara banyaknya peserta dari berbagai provinsi, Citra menonjol dengan keaslian dan kedalaman makna penampilannya. Ia membawakan “Nandung Asli Indragiri” — lagu tradisional yang memuat nilai kasih sayang, doa, dan filosofi kehidupan Melayu.
Ia juga menampilkan unsur Budaya Talang Mamak, menggambarkan harmoni manusia dan alam dalam bingkai spiritualitas lokal.
Penampilannya bukan hanya indah, tetapi menyentuh hati. Ia menampilkan budaya bukan sebagai tontonan, tetapi sebagai tuntunan yang meneguhkan identitas bangsa.
Dan puncaknya, Raja Citra Dwinanda Putri dinobatkan sebagai Top 10 Puteri Kebudayaan Indonesia 2025 sekaligus meraih penghargaan bergengsi Puteri Kebudayaan Indonesia Best Talent 2025.
Air Mata Bahagia dan Doa dari Tanah Inhu
Ketika namanya disebut dalam sepuluh besar, suasana di ruang penobatan itu berubah haru. Kamera menyorot wajahnya yang menitikkan air mata bahagia. Di Pematang Reba, kampung halamannya, kabar itu langsung menjadi berita besar.
Sang ayah, R. Noprizal Djas, menyampaikan rasa bangga dan syukur yang mendalam.
“Prestasi ini bukan hanya milik keluarga kami, tapi milik seluruh masyarakat Indragiri Hulu dan Riau. Anak kami telah membawa nama daerah ke tingkat nasional dan mengharumkan Indonesia,” ujarnya penuh haru.
Bagi sang ibu, Alusmawati, kebahagiaan itu lebih dari sekadar penghargaan. Ia melihat bagaimana perjuangan panjang putrinya, dari latihan demi latihan, dari air mata hingga senyum kemenangan, adalah wujud nyata ketulusan dan kerja keras.
“Kami hanya bisa mendoakan. Selebihnya, semua karena kehendak Allah dan dukungan banyak pihak,” tuturnya lirih.
Makna di Balik Prestasi
Bagi Citra, kemenangan bukan sekadar piala atau gelar. Lebih dari itu, adalah pengabdian terhadap budaya dan jati diri bangsa.
“Saya ingin generasi muda Riau dan Indonesia tahu bahwa budaya itu tidak kuno. Budaya adalah akar yang membuat kita kuat dan berkarakter,” ujarnya penuh keyakinan.
Ia berharap agar setiap anak muda mampu mengenal dan mencintai budayanya sendiri. Karena dari budaya, lahir moral, rasa hormat, dan semangat gotong royong — nilai yang kini mulai pudar di tengah arus modernisasi.
Inspirasi untuk Generasi Muda
Kisah Citra memberi pesan penting bagi generasi muda Indonesia: bahwa mimpi besar selalu dimulai dari langkah kecil yang berani.
Dunia kini memang menawarkan banyak hal instan — popularitas di media sosial, gaya hidup cepat, dan kemudahan teknologi. Namun, kisah Citra mengingatkan bahwa nilai sejati kesuksesan justru lahir dari ketekunan, kerja keras, dan penghormatan terhadap akar budaya.
Citra adalah contoh nyata bahwa modernitas dan tradisi tidak perlu saling meniadakan. Seorang gadis muda bisa tampil anggun dan modern, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya bangsanya.
Budaya sebagai Cahaya Peradaban
Dalam konteks kebangsaan, prestasi Citra adalah cermin bahwa budaya adalah ruh bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi, budaya berperan menjaga identitas dan karakter nasional.
Ajang seperti Puteri Kebudayaan Indonesia bukan sekadar kontes kecantikan, melainkan wadah aktualisasi nilai-nilai luhur bangsa. Melalui figur-figur muda seperti Citra, budaya tidak lagi hanya disimpan dalam buku dan museum, tetapi dihidupkan melalui sikap, tutur, dan karya.
Raja Citra Dwinanda Putri telah membuktikan bahwa anak muda Indonesia bisa menjadi duta budaya sejati. Ia telah menanamkan keyakinan bahwa menjaga budaya adalah menjaga masa depan bangsa.
Motivasi dari Seorang Putri Riau
Dalam setiap wawancaranya, Citra selalu menyampaikan pesan yang sederhana tapi mendalam:
“Jangan pernah takut bermimpi, tapi jangan lupa bersyukur dan berusaha. Apa pun bisa dicapai kalau kita punya niat baik dan keyakinan.”
Baginya, perjalanan menuju panggung nasional bukan tentang mengalahkan orang lain, tetapi tentang menaklukkan diri sendiri — rasa takut, malas, dan ragu. Ia juga berpesan kepada remaja Indonesia agar tidak meninggalkan akar budaya dalam setiap langkah kemajuan.
“Kemajuan tanpa budaya ibarat pohon tanpa akar. Mungkin tinggi, tapi mudah tumbang,” katanya dengan penuh makna.
Cahaya dari Riau untuk Indonesia
Keberhasilan Citra Dwinanda Putri bukan hanya kebanggaan bagi Riau, tetapi juga untuk seluruh Indonesia. Ia membawa pesan bahwa setiap daerah memiliki potensi luar biasa untuk berkontribusi dalam pembangunan karakter bangsa.
Budaya bukan penghalang kemajuan, melainkan fondasi kokoh bagi peradaban modern. Dengan menjunjung budaya, kita tidak hanya membangun keindahan estetika, tapi juga keindahan moral dan spiritual bangsa.
Citra telah menjadi simbol dari semangat itu — simbol generasi muda yang berbudaya, berprestasi, dan berakhlak.
Penutup: Cahaya yang Tak Pernah Padam
Dalam kehidupan, tidak semua perjuangan langsung berbuah manis. Tapi bagi mereka yang berjuang dengan hati tulus, waktu akan menjadi saksi bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, akan bermakna.
Raja Citra Dwinanda Putri telah menorehkan jejaknya di panggung nasional. Namun, perjalanan itu baru permulaan dari pengabdian yang lebih besar: menjaga, mencintai, dan menghidupkan kebudayaan Indonesia.
Ia telah membuktikan bahwa dari tanah Indragiri Hulu, cahaya budaya mampu menembus langit Bali dan menyinari nusantara. Dan cahaya itu akan terus menyala — selama masih ada anak muda yang mencintai budayanya dengan sepenuh jiwa.
Penulis : DR Syeikh Asripilyadi, M.M
Penulis, jurnalis, dan pemerhati kebudayaan. Telah menulis lebih dari tiga puluh buku inspiratif tentang nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan, dan budaya nusantara….








